1.6.07

Perlu Pendidikan Nurani

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/23/humaniora/3551968.htm


Jakarta, Kompas - Sangat menyedihkan melihat perkembangan masyarakat
Indonesia saat ini. Kepedulian dan komitmen terhadap pendidikan budi
pekerti dan pembangunan watak manusia Indonesia masih sangat lemah.
Padahal, penanaman nilai-nilai yang terbaik adalah melalui pendidikan
nurani.

"Nurani tidak pernah didengarkan. Lembaga pendidikan dikatakan tidak
memberi perhatian kepada pengembangan kepekaan nurani peserta didik.
Padahal dengan pendidikan nurani atau pendidikan hati, kita bisa
menanamkan nilai-nilai, " kata Ketua Umum Yayasan Amal Bhakti Ibu
(YABI) Ny A Sulasikin Murpratomo pada pembukaan Rapat Kerja dan
Lokakarya Nasional YABI di Jakarta, Selasa (22/5).

YABI yang berdiri 20 Mei 1992 dan kini telah berusia 15 tahun ini
memiliki program kegiatan Anak Indonesia Membangun Budaya Damai
(Aimdamai). Ini program pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan
nilai cinta damai, kerukunan antarumat beragama, etnis dan suku, serta
lapisan sosial, kebersamaan dan tolong-menolong, cinta Tanah Air pada
anak-anak usia 4 tahun hingga 13 tahun.

Menurut Sulasikin, meskipun telah lima tahun berjalan, perkembangan
program Aimdamai sangat lamban. Sampai saat ini baru ada di delapan
provinsi, yaitu DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Daerah
Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, dan
Kalimantan Tengah.

Kenyataan ini sangat menyedihkan karena ternyata kepedulian dan
komitmen kita atas pendidikan nurani masih lemah. Padahal, banyak
kritik lantang yang diteriakkan tentang pendidikan sekarang yang
dikatakan telah mencabik-cabik nurani.

Terabaikannya pendidikan hati, menurut Ny Sulasikin, begitu tampak
dalam bentuk perilaku manusia Indonesia sekarang, termasuk anak-anak,
orangtua, dan guru. (LOK)

No comments: